Kisah Sang Sepatu yang Merana
Di sudut lemari yang temaram, sepasang sepatu kulit termangu dalam diam. Mereka tidak sendiri, namun merasa paling sepi. Dulu, di sisi mereka, bersemayam dua pasang sandal—satu pasang sandal jepit sederhana untuk bersantai, dan satu pasang sandal gunung yang gagah untuk berpetualang. Mereka adalah empat sekawan yang tak terpisahkan.
Sang sepatu selalu mengagumi kebebasan para sandal. Sandal jepit yang menari di pasir pantai, dan sandal gunung yang menapaki puncak tertinggi. Sementara mereka, sang sepatu, hanya bisa menunggu acara-acara formal yang membosankan.
Namun suatu hari, sang pemilik memutuskan untuk pergi, dan hanya membawa barang seperlunya. Kedua pasang sandal itu tertinggal, lalu hilang ditelan waktu dan debu. Kini, setiap malam, sang sepatu menangis dalam sunyi, mengeluarkan air mata dari lubang talinya, meratapi nasib dua pasang sahabatnya yang tak akan pernah kembali.