Sepasang sepatu usang tergantung

Elegi Dua Pasang Sandal

Sebuah kisah tentang kehilangan, kerinduan, dan sol yang tak pernah lagi berjalan beriringan.

Kisah Sang Sepatu yang Merana

Di sudut lemari yang temaram, sepasang sepatu kulit termangu dalam diam. Mereka tidak sendiri, namun merasa paling sepi. Dulu, di sisi mereka, bersemayam dua pasang sandal—satu pasang sandal jepit sederhana untuk bersantai, dan satu pasang sandal gunung yang gagah untuk berpetualang. Mereka adalah empat sekawan yang tak terpisahkan.

Sang sepatu selalu mengagumi kebebasan para sandal. Sandal jepit yang menari di pasir pantai, dan sandal gunung yang menapaki puncak tertinggi. Sementara mereka, sang sepatu, hanya bisa menunggu acara-acara formal yang membosankan.

Namun suatu hari, sang pemilik memutuskan untuk pergi, dan hanya membawa barang seperlunya. Kedua pasang sandal itu tertinggal, lalu hilang ditelan waktu dan debu. Kini, setiap malam, sang sepatu menangis dalam sunyi, mengeluarkan air mata dari lubang talinya, meratapi nasib dua pasang sahabatnya yang tak akan pernah kembali.

Koleksi yang Ditinggalkan

The Formalist

Sepatu pantofel yang kaku. Selalu siap untuk rapat, namun hatinya mendambakan pesta di tepi danau.

The Loner

Boots kulit yang tangguh. Telah berjalan ribuan mil, tapi setiap langkah terasa hampa tanpa derap sandal di sisinya.

The Dreamer

Sneakers kanvas yang pudar. Memimpikan festival musik di padang rumput, sebuah mimpi yang kini terkubur.

In Memoriam

Untuk dua pasang sandal yang telah tiada.

Sandal Jepit

Jejakmu di pasir telah disapu ombak, kenanganmu terhapus bersama buih.

Sandal Gunung

Gema langkahmu di puncak kini hening, hanya angin yang membawa bisikmu.